Bismillahirrahmanirrahim
Ini adalah
postingan pertama saya, setelah setahun lebih berhenti menulis. Begitu memulai
kalimat baru, rasanya seperti kembali ke masa waktu dulu masih belum
berkeluarga. Alhamdulillah, saya juga sudah kembali ke Bogor. Hehehehe,
sebetulnya sudah enam bulan yang lalu kembalinya, tapi baru sekarang mulai
menulis lagi.
Saya yakin
beberapa teman yang dulu suka membaca blog dan cerita saya beberapa bulan
belakangan bertanya, Fita ke mana kok nggak muncul dengan tulisannya. So,
sekarang saya bayar nih rasa penasarannya. Cekidot nih, tulisan perdana saya
setelah lama tidur ala sleeping beauty dari kreatifitas dan aktifitas tulis
menulis. Oh iya, alasan saya lama nggak nulis itu karena modem smartf*** saya nomornya hilang
dan tidak bisa diisi ulang. Beruntungnya, suami menghadiahkan ponsel yang bisa
dipakai modem sekaligus. Padahal dikasihnya bulan februari, baru tahu bisa
dipakai modemnya bulan Juni. Huhuhuhu betapa gapteknya saya.
Yuk ah,
capcus saya mau cerita nih….
Pernah baca
puisinya om Sapadi Djoko Dharmono kan? Itu lho tentang “Hujan di Bulan Juni”.
Iyes, bener banget, hujan di bulan Juni itu memang dirindukan sekali. Terlebih
kalau hujannya nggak turun-turun sampai bulan Juli dan bulan-bulan berikutnya.
Nah, kali ini saya mengalami hal tersebut.
Bogor tidak
hujan ketika Juni mulai menyapa Juli, alhasil sebulan lebih Bogor Barat
tercinta ini tidak hujan. Awalnya sih biasa saja, kita masih mengkonsumsi air
seperti biasa. Tapi begitu mendekati Idul Fitri kok torn yang biasanya penuh
dalam waktu dua puluh lima menit jadi tidak bisa penuh, plus air harus
dipancing dulu agar bisa terangkat masuk ke pipa yang ke arah torn.
Lama-lama
setelah Idul Fitri dapat seminggu malah tidak ada air di sumur, alias “asat”
kalau kata orang-orang. Waktu pas ibu saya sedang di sini untuk liburan
sekaligus menemani saya dan Sesa karena suami sedang dinas di Tarakan selama
sebulan.
Maaf kali ini saya tidak ingin menceritakan
bagaimana kami kesusahan mencari air. Karena cerita orang kekeringan di
mana-mana sama. Ke sana kemari mencari air sambil bawa ember. Saya hanya ingin
ngobrol sebentar tentang Bogor.
Yup! Bogor
tanpa hujan, apalah jadinya ? Pasti orang akan bilang “tidak mungkin, kan Bogor
kota hujan”. Belive or not ini memang benar-benar terjadi. Awalnya Cuma ngira
kompleks perumahan saya saja yang kekeringan. Eh pas nonton berita di televisi,
ternyata Bogor memang sedang dilanda kekeringan di beberapa kecamatan. Termasuk
kecamatan tempat saya tinggal, kecamatan Kemang _bukan Kemang kawasan elite di
Jakarta Selatan_ tak hanya itu, kota Bogorpun dilanda kekeringan.
Kota yang
selama ini terkenal sebagai kota hujan mengalami kekeringan. Amazing banget
kan? Bogor tanpa Hujan, rasanya seperti Bogor yang kehilangan jati dirinya. Eaaaah…
namanya juga julukan. Bukankah dibalik sebuah julukan tersemat penjelas tentang
identitas seseorang atau sesuatu objek. Biasanya ada suara gemuruh yang suka
menghiasi hidup kami, tiba-tiba berganti terik mentari yang membuat peluh
bercucuran. Ditambah tanaman yang mulai kerontang. Beruntung kota Bogor meski
kering tanpa hujan masih menyisakan pepohonan yang cukup rindang dan udara yang
lumayan sejuk. Cuma kesejukan tanpa air apalah artinya?
Alhamdulillah,
bersyukur punya walikota yang mumpuni seperti mas Arya Bima serta Gubernur yang
keren yaitu kang Aher. Yups, mas Arya Bima dan para pengurus pemkot kota Bogor
bekerja sama dengan MUI kota Bogor mengadakan sholat istiqa’ (sholat memanggil
hujan) di lapangan Sempur samping Istana Bogor tanggal 24 Juli 2015. Begitupula
dengan sang Gubernur yang lebih memilih untuk menyuruh warga Jabar untuk
melakukan sholat istiqa’ daripada menyiapkan anggaran milyaran untuk
memanipulasi cuaca agar hujan turun.
Syukur
Alhamdulillah, tepat pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 19.00 hujan turun di
Bogor, meski hanya sepuluh menit tapi kami benar-benar merasakan keharuan dan
kebahagiaan. Benar-benar merasakan kebesaranNya. Setelah itu selang beberapa
hari hujan kembali turun, hingga puncaknya kemarin malam. Hujan benar-benar hujannya Bogor, yaitu hujan yang deras,
disertai dengan petir dan gemuruh serta listrik yang padam.
Khusus
untuk kawasan Bogor Barat yang kaya akan petir listrik memang sengaja
dipadamkan jika hujan. Meski dapur saya sampai banjir, tapi kami benar-benar
bersyukur. Jika hujan turun, pertanda rizki juga diturunkan melalui setiap
rintikknya. Dan pastinya setiap tetes air yang turun akan membawa manfaat bagi
makhluknya. Sebagaimana bunyi doa dikala hujan yang sering kami lafazkan. “Ya
Allah, jadikanlah hujan ini manfaat.”
Pengalaman
kekeringan ini sebenarnya peringatan bagi kami, ya sejujurnya kami memang
banyak salah. Baik salah pada lingkungan yang semakin hari semakin rusak. Serta
salah kami pada kemasyarakatan, karena daerah kami memang terkenal dengan
jablaynya.
Semoga
kedepannya kami bisa semakin sadar bagaimana pentingnya berhemat air. Memakai
air seperlunya dan secukupnya, menanam pepohonan sebagai penampung air.
Mengurangi pembangunan villa dan pastinya membuat kawasan kami menjadi kawasan
yang bersih dari penyakit masyarakat.
Yuk, berdoa
dan bertindak untuk hidup dan lingkungan kita yang lebih baik.