Pagi itu, tidak seperti biasanya. Pukul 06.00 WIB kami
telah siap. Sudah mandi, sudah semuanya. Kecuali sarapan, belum sempat masak
soalnya. Sebagaimana maklumat yang diumumkan pada apel tanggal 31 Agustus 2015 kemarin,
bahwa tanggal 03 September akan diadakan Pertemuan Gabungan Persit Penerbad
Cabang 1 dan 4 di Kebun Raya Bogor. Seluruh ibu persit diharap hadir, acara
akan dimulai pukul 07.00 WIB.
O
ke,
sebagai anggota yang baik sekaligus istri prajurit yang senantiasa menjaga nama
baik suaminya. Maka kita harus datang tepat waktu, kurang waktu bahkan. Maka di
hari itu, meski Wisesa belum bangun dan masih menikmati tidurnya yang nyaman.
Saya bangunkan dia dengan sedikit memaksa. Begitu bangung langsung saya mandikan.
Memang dia tidak menangis, tapi tetap saja saya kasihan. Maafkan ibu ya nak,
sudah merenggut kenyamanan tidurmu.
Tidak
Jakarta, tidak pula Bogor. Macet sudah menjadi rutinitas wajib yang harus
dilalui. Berbarengan dengan anak-anak berangkat sekolah dan orang-orang yang
berangkat kerja, ditambah lagi dengan kesibukan para polisi yang menyambut kedatangan Jokowi ke Bogor. Kemacetan kami
terobos dengan lancar. Akhirnya sampailah kita di Kebun Raya Bogor. Kami masuk
lewat pintu tiga, sebagaimana yang telah ditentukan.
Di dalam
sana tenda telah terpancang, meja-meja dan kursi telah disiapkan. Mirip sebuah
perhelatan pesta kebun, tapi yang ini tidak ada acara barbeqeu-an. Bukan acara TNI kalau tidak ada dangdutannya. Ketika
saya datang, seorang pemain organ tunggal sedang asik menyiapkan organ
kebanggaannya. Sebagai istri prajurit yang senantiasa rapi dan tertib dalam
barisan, kamipun tak mau kalah dengan para suami. Memanjang, berbaris satu
persatu, kami antri untuk mengabsen. Ini sangat penting! Selain untuk
menandakan kehadiran (kalau tidak hadir kan bapaknya nanti dapat sanksi), untuk
memperoleh snack dan pastinya agar nama kami tercatat dalam lembaran kocokan
doorprise. Hadiah utamanya mesin cuci lho! Pas banget kan, mesin cuci di rumah
saya sedang rusak hehehe…
Di meja
absensi, terlihat seorang ibu yang mengenakan jilbab kaos lebar dan bawahan
rok. Ah, saya jadi sangat menyesal karena sudah tidak mendengarkan kata suami
untuk tetap memakai baju seperti biasanya. Karena ketentuan dari kantor disuruh
pakai celana training dan saya dengan takut menurutinya. Tak lama setelah itu,
hadir juga seorang ibu yang mengenakan gamis dan khimar. Ia tidak memakai
seragam olahrasa persit penerbad. Dan beliau tetap baik-baik saja tanpa ada
yang marah. Aduuuh nyeselnya jadi dobel. Ketika saya ceritakan hal ini ke
suami, dia hanya berkata dengan santainya.
“Dibilang
juga apa, nggak usah tiru-tiru yang lainnya. Pakai beli celana training sama
jilbab pendek segala. Takut itu ya, sama Allah dek. Bukan sama Ibu Ketua
Persit.”
Hrrrr…….
Kembali pada pertemuan ….
Sementara
saya duduk manis bersama para ibu, suami dan anak saya bermain-main di lapangan
rumput bersama para suami dan anak-anak lainnya. Yeah! Kita bebas dulu sehari
dari kegiatan momong anak. Biarkanlah para suami merasakan bagaimana pegelnya
badan menggendong atau mengikuti anak-anak yang aktif bergerak kesana kemari.
Kita santai-santai saja dulu, menikmati lagu “Gemufamire” yang diputar om organ
tunggal.
Sejam
berlalu, acara belum dimulai. Kabarnya masih menunggu rombongan dari
Puspenerbad, ada Ibu Komandan Pusat Penerbad di sana, beliau adalah orang nomer
satu di Persit Penerbad. Yah, ibu Irene-nya Penerbad gitu deh. Kebosanan mulai
melanda. Wah ternyata ibu tentara bisa molor juga, batin saya.
Dua jam
berlalu, benar-benar bosan. Snack dalam kotak sudah habis, sementara lapar dan
haus menyerang. Mau beli makan harus keluar area Kebun Raya, dan itu jauh
sekali. Mau ngobrol sama ibu-ibu yang lainnya mereka juga sudah bosan. Kami
sudah kehabisan topik pembicaraan. Benar-benar wasting time sekali.
Dan
akhirnya, tepat jam 10.00 WIB acara pun dimulai. Ternyata acaranya ya
begitu-begitu saja. Sambutan-sambutan, pengundian door prise sesi pertama
diiringi demo masak dari sebuah produk alat makan. Dilanjutkan dengan lomba-lomba.
Ada tiga perlombaan, lomba makan pisang dengan mata tertutup, lomba sarung
berantai dan lomba bisik berantai.
Setelah
lomba, tentunya ada sesi joged bagi siapa saja yang mau. Ya, namanya juga TNI,
bukan TNI namanya kalau nggak ada joged bersamanya. Dilanjutkan dengan joged
anak-anak. Kata bu komandan, anak siapa yang berani maju dan menyanyi di
panggung dapat uang.
Ada
berepada anak yang maju, merekapun menyanyi. Parahnya, lagu yang dinyanyikan
adalah “Goyang Dumang”. Ealah nak, dirimu ini anak-anak apa orang dewasa to?
Miris banget deh.
Setelah
itu, pengundian doorprise lagi. Sayangnya bukan saya yang dapat mesin cuci
hehehehe…. Penutupan , pembagian makan siang dan souvenir. Nah, souvenirnya
lumayan, sekotak roti unyil dan sekotak lapis talas bogor. Meski bukan dari
merek ternama, notbad lah… And than… Mari pulang… marilah pulang.