Monday, August 31, 2015

Istimewanya Pagi Untukku

Bismillahirrahmanirrahim 

             Alhamdulillah sekali, Terimakasih banyak ya Allah. Kali ini Allah swt memberikan saya kekuatan untuk bisa bangun dini hari. Walaupun sebenarnya saya masih sedih karena Wisesa dari hari ke hari makin tidak suka makan, bahkan minum susunya juga berkurang. Tapi apapun yang terjadi tetap tidak boleh putus asa, mencari solusinya hehehehe....
            Bisa bangun di waktu sepertiga malam terakhir bagi saya adalah anugrah. Mungkin bagi orang hal ini adalah waktu di mana enak-enaknya tidur. Yup, udara yang mulai dingin, hembusan angin yang membawa embun membuat kamar kita yang hangat menjadi tempat paling nyaman. Apalagi kalau ada selimut hangat nan empuk. Wah, rasanya enak banget plus mimpi yang indah seperti mimpi dapat arisan misalnya. 
            Namun bagi saya, bangun di waktu seperti ini adalah sebuah kesempatan. Mengapa? Karena di saat hening seperti ini, banyak power  dan kesempatan yang bisa saya dapatkan. Pertama, saya bisa buka laptop untuk browing info-info menarik dengan tenang. Karena jika waktu suami dan anak saya masih terjaga, mereka selalu menyita perhatian saya. Jadinya tidak fokus ke laptop. Memang sih, bisa buka internet pakai HP , Tapi kan rasanya beda sama kalau pakai laptop. 
            Kedua, banyak inspirasi yang muncul dari otak yang masih fresh. Saat -saat sepi seperti ini membuat saya lancar menulis. Benar-benar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menulis oleh Allah swt. Tapi sebelum buka laptop saya usahakan dulu untuk bertemu dengan Rabb Semesta Alam, biar hati dan pikiran jernih. 
             Ketiga, kalau memang nggak lagi ingin nulis. Saya bisa punya power lebih buat menggosok baju. Menyetrika jadi lebih cepat, mungkin karena nggak ada Sesa yang suka ikut-ikutan mau pegang setrikaan. Benar-benar lancar jaya. 
             Keempat, saya jadi semangat banget buat bersih-bersih. Mulai dari mencuci piring dan perlengkapan masak yang kotor sampai menyapu dan mengepel lantai semua jadi beres di pagi hari. 
             Kelima , pagi adalah waktu yang dijanjikan oleh Allah swt untuk mengais rejeki. Tak heran mengapa Rasulullah saw dan para sahabat tidak pernah menyia-nyiakan pagi hari untuk bermalas-malasan. Karena waktu pagi punya karakter tersendiri yang membuat kita jadi bregas dan fokus untuk mengerjakan banyak hal. 
             Sebenarnya masih banyak lagi alasan kenapa saya sangat cinta dini hari. Tapi tidak kalah pentingnya nih, beberapa hal yang bagus kita lakukan pada dini hari. 
             Waktu dini hari adalah waktu yang bagus untuk berdoa. Hari yang diawali dengan doa dan kebaikan , inshaallah akan baik sepanjang hari. Jangan lupa untuk membaca dzikir dan doa di pagi hari. Karena itu adalah salah satu wujud rasa syukur kita kepada Allah swt atas kehidupan dan rejeki yang kita peroleh.
             Pokoknya, jangan pernah menyia-nyiakan pagi. Karena pagi adalah moment paling baik untuk mendapatkan kebaikan. 
Yuk ah! Mulai mengawali pagi ini dengan kebaikan. Salam Kebermanfaatan :)
             


Sunday, August 2, 2015

Tips Menghemat Air (Versi Penulis)

      Kemarau panjang melanda sebagian besar kawasan Indonesia. BMKG bilang sih karena dampak el nino, sementara beberapa pakar lingkungan bilang karena semakin banyak sumur bor sehingga, air tanah menyusut dan air laut merembes (IMS; 30 juli 2015). Sedang para ahli perenungan menyatakan bahwa manusia telah terlalu banyak menyakiti alam dan mendzalimi dirinya sendiri sehingga alam bereaksi.
      Jangankan kawasan NTT yang memang sudah langganan kekeringan setiap tahun, Bogor lho  kota yang berjuluk “kota hujan”  saja mengalami kekeringan. Maka mau tidak mau saya harus berinisiatif mengambil tindakan cerdas untuk mengakali krisis air. Berikut ini adalah beberapa tips yang saya terapkan dalam menyiasati krisis air yang beberapa hari lalu saya alami.
1.    Membuka dan Menutup Kran dengan Seksama
Nah, kelihatannya sepele sih ya. Kita sering teledor dalam mengontrol kran air kita. Kadang kita suka sekali menyalakan air meski hanya sekedar cuci kaki dan buang air kecil. Padahal untuk urusan tersebut kita hanya memerlukan beberapa gayung air saja. Selain itu, yang krusial nih, kalau kita suka teledor menutup kran air. Bayangkan kalau ada 3 kran yang kurang pas menutupnya sehingga air menetes terus menerus. Boros banget kan! Kalaupun memang krannya bermasalah, tetesan air bisa ditampung menggunakan ember hingga kita memperbaiki atau mengganti dengan kran yang baru. Nah, air tampungannya bisa kita gunakan untuk keperluan yang lain seperti mencuci baju dsb.
2.    Meminimalisir Air Terbuang Ketika Berwudhu
Wudhu merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam jika akan melakukan ibadah lain seperti sholat. Hakikatnya, berwudhu merupakan sebuah sarana untuk membersihkan diri dari kotoran dan mencapai kesucian. Sayangnya, kita suka sekali berlebihan dalam berwudhu. Misalnya, membasuh kepala sampai basah banget atau membasuh kaki sampai betis. Padahal, Rasulullah saw itu mencontohkan untuk menyapukan air pada kepala dan membasuh hingga mata kaki saja. Belum lagi ada beberapa orang yang kalau berwudhu membasuhnya suka over hehehe…  Dalam membasuh satu bagian tubuh saja bisa lima kali. Kebayang tuh kan berapa banyak air yang terbuang. Berwudhulah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw itu berwudhu dengan air sebanyak 1 mud saja. 1 mud itu kalau untuk ukuran orang Hijaz (orang dari kawasan Makah situ) sekitar 1/3 liter. Sementara untuk takaran orang Irak, 1 mud sama dengan 2 liter. Sementara untuk mandi, Rasulullah saw memakai air sebanyak 1 sho’ sampai 5 mud (HR. Muttafaq alaih). Yuk kita benahi wudhu kita selain mengikuti sunah Rasul juga tidak boros air
Selain berwudhu sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, bisa juga lho pas wudhu kita taruh ember di bawah kran. Jadi air bekas wudhu kita nggak terbuang ke mana-mana. Asal kalau kumur-kumur airnya jangan dibuang ke ember. Nah, air bekas wudhu kita ini kan masih bagus tuh, bisa kita manfaatkan untuk mencuci baju. Dalam sehari, saya bisa mengumpulkan sekitar 3 ember air sisa wudhu. Satu ember sekitar 4 liter air, lumayan kan bisa buat nyuci serbet atau kain-kain lap.
3.    Tidak Berlebihan Memakai Detergen atau Sabun ketika Mencuci Baju
Namanya nyuci pengen bersih, biasanya kita suka menuangkan detergen banyak-banyak ke cucian kita. Karena berdasarkan stigma orang terdahulu, makin banyak busa makin bersih. Faktanya, makin banyak busa makin banyak air yang kita gunakan untuk membilas. Plus kalau bilasnya nggak bersih, sisa busa yang mengendap di baju malah bikin kulit kita gampang iritasi. Terus, gimana kalau cuciaan kita malah nggak bersih kalau sabunnya make dikit saja? Tenang, kita kan bisa tuh pakai trik ibu-ibu cerdas yang menggunakan citrun acid untuk membuat cucian bersih dari noda. Penggunaan citrun acid itu, selain bikin kain bersih, nggak berbusa juga lho. Jadi hemat air
4.    Reuse Air
Pemakaian ulang atau pemanfaatan ulang, yah istilah kekiniannya itu “reuse”. Memanfaatkan ulang air itu bisa dicontohkan dengan memakai air bekas nyuci untuk nyiram tanaman. Atau menggunakan air bilasan terakhir pada pencucian baju, untuk dijadikan air bilasan pertama pada proses pencucian berikutnya. Tindakan ini bisa menekan jumlah pemakaian air bersih dalam kegiatan rumah tangga.
5.    Mencuci Piring dengan Cara yang Tepat
Nah, ini yang suka terlewatkan. Mencuci piring, kalau kita salah ambil tindakan bisa-bisa justru memicu pemborosan air lho. Ada beberapa orang yang membersihkan sisa makanan dengan cara menyemburkan air kran agar isi piringnya berjatuhan ke jalan air. Selain boros air, sisa makanan juga bisa menyumbat saluran air. Cara paling tepat, ya kita buang dulu sisa makanannya ke tempat sampah. Barulah kita cuci piringnya.
Jangan lupa juga untuk memperhatikan urut-urutan material atau kondisi piranti makan dan alat masak yang akan dicuci. Dahulukan gelas dan piranti lain yang tidak amis dan berminyak. Gunakan jeruk nipis untuk mencuci alat makan dan alat masak yang berbau amis dan cucilah alat masak yang paling berminyak di urutan paling akhir. Kenapa harus diurut seperti itu? Karena kalau yang kotoran terberat didahulukan, biasanya kita akan boros air. Kok bisa? Karena air bekas cucian dari piring atau piranti dengan kotoran terberat, tidak bisa kita gunakan untuk membilas sabun pada piranti sepeti gelas. Nah, kalau gelas duluan yang disabun, kan air bilasannya bisa dipakai untuk membilas piring. Walaupun perlu ditambah air sedikit lagi biar bilasannya sempurnya.
Oke, itulah beberapa tips dan trik dari saya yang kemarin sempat mengalami krisis air. Semoga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman yang membacanya. Jangan lupa untuk menambahkan beberapa tips ala teman-teman agar kita punya banyak cara menghemat air. Yuk, sayangi lingkungan kita. Karena muslim yang baik adalah mereka yang menebar kasih sayang dan manfaat bagi  segenap penghuni alam raya.
Salam kebermanfatan J




Saturday, August 1, 2015

Bogor dan Hujan

Bismillahirrahmanirrahim
      Ini adalah postingan pertama saya, setelah setahun lebih berhenti menulis. Begitu memulai kalimat baru, rasanya seperti kembali ke masa waktu dulu masih belum berkeluarga. Alhamdulillah, saya juga sudah kembali ke Bogor. Hehehehe, sebetulnya sudah enam bulan yang lalu kembalinya, tapi baru sekarang mulai menulis lagi.
      Saya yakin beberapa teman yang dulu suka membaca blog dan cerita saya beberapa bulan belakangan bertanya, Fita ke mana kok nggak muncul dengan tulisannya. So, sekarang saya bayar nih rasa penasarannya. Cekidot nih, tulisan perdana saya setelah lama tidur ala sleeping beauty dari kreatifitas dan aktifitas tulis menulis. Oh iya, alasan saya lama nggak nulis itu  karena modem smartf*** saya nomornya hilang dan tidak bisa diisi ulang. Beruntungnya, suami menghadiahkan ponsel yang bisa dipakai modem sekaligus. Padahal dikasihnya bulan februari, baru tahu bisa dipakai modemnya bulan Juni. Huhuhuhu betapa gapteknya saya.
      Yuk ah, capcus saya mau cerita nih….
      Pernah baca puisinya om Sapadi Djoko Dharmono kan? Itu lho tentang “Hujan di Bulan Juni”. Iyes, bener banget, hujan di bulan Juni itu memang dirindukan sekali. Terlebih kalau hujannya nggak turun-turun sampai bulan Juli dan bulan-bulan berikutnya. Nah, kali ini saya mengalami hal tersebut.
      Bogor tidak hujan ketika Juni mulai menyapa Juli, alhasil sebulan lebih Bogor Barat tercinta ini tidak hujan. Awalnya sih biasa saja, kita masih mengkonsumsi air seperti biasa. Tapi begitu mendekati Idul Fitri kok torn yang biasanya penuh dalam waktu dua puluh lima menit jadi tidak bisa penuh, plus air harus dipancing dulu agar bisa terangkat masuk ke pipa yang ke arah torn.
      Lama-lama setelah Idul Fitri dapat seminggu malah tidak ada air di sumur, alias “asat” kalau kata orang-orang. Waktu pas ibu saya sedang di sini untuk liburan sekaligus menemani saya dan Sesa karena suami sedang dinas di Tarakan selama sebulan.
      Maaf  kali ini saya tidak ingin menceritakan bagaimana kami kesusahan mencari air. Karena cerita orang kekeringan di mana-mana sama. Ke sana kemari mencari air sambil bawa ember. Saya hanya ingin ngobrol sebentar tentang Bogor.
      Yup! Bogor tanpa hujan, apalah jadinya ? Pasti orang akan bilang “tidak mungkin, kan Bogor kota hujan”. Belive or not ini memang benar-benar terjadi. Awalnya Cuma ngira kompleks perumahan saya saja yang kekeringan. Eh pas nonton berita di televisi, ternyata Bogor memang sedang dilanda kekeringan di beberapa kecamatan. Termasuk kecamatan tempat saya tinggal, kecamatan Kemang _bukan Kemang kawasan elite di Jakarta Selatan_ tak hanya itu, kota Bogorpun dilanda kekeringan.
      Kota yang selama ini terkenal sebagai kota hujan mengalami kekeringan. Amazing banget kan? Bogor tanpa Hujan, rasanya seperti Bogor yang kehilangan jati dirinya. Eaaaah… namanya juga julukan. Bukankah dibalik sebuah julukan tersemat penjelas tentang identitas seseorang atau sesuatu objek. Biasanya ada suara gemuruh yang suka menghiasi hidup kami, tiba-tiba berganti terik mentari yang membuat peluh bercucuran. Ditambah tanaman yang mulai kerontang. Beruntung kota Bogor meski kering tanpa hujan masih menyisakan pepohonan yang cukup rindang dan udara yang lumayan sejuk. Cuma kesejukan tanpa air apalah artinya?
      Alhamdulillah, bersyukur punya walikota yang mumpuni seperti mas Arya Bima serta Gubernur yang keren yaitu kang Aher. Yups, mas Arya Bima dan para pengurus pemkot kota Bogor bekerja sama dengan MUI kota Bogor mengadakan sholat istiqa’ (sholat memanggil hujan) di lapangan Sempur samping Istana Bogor tanggal 24 Juli 2015. Begitupula dengan sang Gubernur yang lebih memilih untuk menyuruh warga Jabar untuk melakukan sholat istiqa’ daripada menyiapkan anggaran milyaran untuk memanipulasi cuaca agar hujan turun.
      Syukur Alhamdulillah, tepat pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 19.00 hujan turun di Bogor, meski hanya sepuluh menit tapi kami benar-benar merasakan keharuan dan kebahagiaan. Benar-benar merasakan kebesaranNya. Setelah itu selang beberapa hari hujan kembali turun, hingga puncaknya kemarin malam. Hujan benar-benar  hujannya Bogor, yaitu hujan yang deras, disertai dengan petir dan gemuruh serta listrik yang padam.
      Khusus untuk kawasan Bogor Barat yang kaya akan petir listrik memang sengaja dipadamkan jika hujan. Meski dapur saya sampai banjir, tapi kami benar-benar bersyukur. Jika hujan turun, pertanda rizki juga diturunkan melalui setiap rintikknya. Dan pastinya setiap tetes air yang turun akan membawa manfaat bagi makhluknya. Sebagaimana bunyi doa dikala hujan yang sering kami lafazkan. “Ya Allah, jadikanlah hujan ini manfaat.”
      Pengalaman kekeringan ini sebenarnya peringatan bagi kami, ya sejujurnya kami memang banyak salah. Baik salah pada lingkungan yang semakin hari semakin rusak. Serta salah kami pada kemasyarakatan, karena daerah kami memang terkenal dengan jablaynya.
      Semoga kedepannya kami bisa semakin sadar bagaimana pentingnya berhemat air. Memakai air seperlunya dan secukupnya, menanam pepohonan sebagai penampung air. Mengurangi pembangunan villa dan pastinya membuat kawasan kami menjadi kawasan yang bersih dari penyakit masyarakat.
      Yuk, berdoa dan bertindak untuk hidup dan lingkungan kita yang lebih baik.