Saturday, August 1, 2015

Bogor dan Hujan

Bismillahirrahmanirrahim
      Ini adalah postingan pertama saya, setelah setahun lebih berhenti menulis. Begitu memulai kalimat baru, rasanya seperti kembali ke masa waktu dulu masih belum berkeluarga. Alhamdulillah, saya juga sudah kembali ke Bogor. Hehehehe, sebetulnya sudah enam bulan yang lalu kembalinya, tapi baru sekarang mulai menulis lagi.
      Saya yakin beberapa teman yang dulu suka membaca blog dan cerita saya beberapa bulan belakangan bertanya, Fita ke mana kok nggak muncul dengan tulisannya. So, sekarang saya bayar nih rasa penasarannya. Cekidot nih, tulisan perdana saya setelah lama tidur ala sleeping beauty dari kreatifitas dan aktifitas tulis menulis. Oh iya, alasan saya lama nggak nulis itu  karena modem smartf*** saya nomornya hilang dan tidak bisa diisi ulang. Beruntungnya, suami menghadiahkan ponsel yang bisa dipakai modem sekaligus. Padahal dikasihnya bulan februari, baru tahu bisa dipakai modemnya bulan Juni. Huhuhuhu betapa gapteknya saya.
      Yuk ah, capcus saya mau cerita nih….
      Pernah baca puisinya om Sapadi Djoko Dharmono kan? Itu lho tentang “Hujan di Bulan Juni”. Iyes, bener banget, hujan di bulan Juni itu memang dirindukan sekali. Terlebih kalau hujannya nggak turun-turun sampai bulan Juli dan bulan-bulan berikutnya. Nah, kali ini saya mengalami hal tersebut.
      Bogor tidak hujan ketika Juni mulai menyapa Juli, alhasil sebulan lebih Bogor Barat tercinta ini tidak hujan. Awalnya sih biasa saja, kita masih mengkonsumsi air seperti biasa. Tapi begitu mendekati Idul Fitri kok torn yang biasanya penuh dalam waktu dua puluh lima menit jadi tidak bisa penuh, plus air harus dipancing dulu agar bisa terangkat masuk ke pipa yang ke arah torn.
      Lama-lama setelah Idul Fitri dapat seminggu malah tidak ada air di sumur, alias “asat” kalau kata orang-orang. Waktu pas ibu saya sedang di sini untuk liburan sekaligus menemani saya dan Sesa karena suami sedang dinas di Tarakan selama sebulan.
      Maaf  kali ini saya tidak ingin menceritakan bagaimana kami kesusahan mencari air. Karena cerita orang kekeringan di mana-mana sama. Ke sana kemari mencari air sambil bawa ember. Saya hanya ingin ngobrol sebentar tentang Bogor.
      Yup! Bogor tanpa hujan, apalah jadinya ? Pasti orang akan bilang “tidak mungkin, kan Bogor kota hujan”. Belive or not ini memang benar-benar terjadi. Awalnya Cuma ngira kompleks perumahan saya saja yang kekeringan. Eh pas nonton berita di televisi, ternyata Bogor memang sedang dilanda kekeringan di beberapa kecamatan. Termasuk kecamatan tempat saya tinggal, kecamatan Kemang _bukan Kemang kawasan elite di Jakarta Selatan_ tak hanya itu, kota Bogorpun dilanda kekeringan.
      Kota yang selama ini terkenal sebagai kota hujan mengalami kekeringan. Amazing banget kan? Bogor tanpa Hujan, rasanya seperti Bogor yang kehilangan jati dirinya. Eaaaah… namanya juga julukan. Bukankah dibalik sebuah julukan tersemat penjelas tentang identitas seseorang atau sesuatu objek. Biasanya ada suara gemuruh yang suka menghiasi hidup kami, tiba-tiba berganti terik mentari yang membuat peluh bercucuran. Ditambah tanaman yang mulai kerontang. Beruntung kota Bogor meski kering tanpa hujan masih menyisakan pepohonan yang cukup rindang dan udara yang lumayan sejuk. Cuma kesejukan tanpa air apalah artinya?
      Alhamdulillah, bersyukur punya walikota yang mumpuni seperti mas Arya Bima serta Gubernur yang keren yaitu kang Aher. Yups, mas Arya Bima dan para pengurus pemkot kota Bogor bekerja sama dengan MUI kota Bogor mengadakan sholat istiqa’ (sholat memanggil hujan) di lapangan Sempur samping Istana Bogor tanggal 24 Juli 2015. Begitupula dengan sang Gubernur yang lebih memilih untuk menyuruh warga Jabar untuk melakukan sholat istiqa’ daripada menyiapkan anggaran milyaran untuk memanipulasi cuaca agar hujan turun.
      Syukur Alhamdulillah, tepat pada tanggal 26 Juli 2015 pada pukul 19.00 hujan turun di Bogor, meski hanya sepuluh menit tapi kami benar-benar merasakan keharuan dan kebahagiaan. Benar-benar merasakan kebesaranNya. Setelah itu selang beberapa hari hujan kembali turun, hingga puncaknya kemarin malam. Hujan benar-benar  hujannya Bogor, yaitu hujan yang deras, disertai dengan petir dan gemuruh serta listrik yang padam.
      Khusus untuk kawasan Bogor Barat yang kaya akan petir listrik memang sengaja dipadamkan jika hujan. Meski dapur saya sampai banjir, tapi kami benar-benar bersyukur. Jika hujan turun, pertanda rizki juga diturunkan melalui setiap rintikknya. Dan pastinya setiap tetes air yang turun akan membawa manfaat bagi makhluknya. Sebagaimana bunyi doa dikala hujan yang sering kami lafazkan. “Ya Allah, jadikanlah hujan ini manfaat.”
      Pengalaman kekeringan ini sebenarnya peringatan bagi kami, ya sejujurnya kami memang banyak salah. Baik salah pada lingkungan yang semakin hari semakin rusak. Serta salah kami pada kemasyarakatan, karena daerah kami memang terkenal dengan jablaynya.
      Semoga kedepannya kami bisa semakin sadar bagaimana pentingnya berhemat air. Memakai air seperlunya dan secukupnya, menanam pepohonan sebagai penampung air. Mengurangi pembangunan villa dan pastinya membuat kawasan kami menjadi kawasan yang bersih dari penyakit masyarakat.
      Yuk, berdoa dan bertindak untuk hidup dan lingkungan kita yang lebih baik.

     
 

No comments:

Post a Comment