Sunday, August 2, 2015

Tips Menghemat Air (Versi Penulis)

      Kemarau panjang melanda sebagian besar kawasan Indonesia. BMKG bilang sih karena dampak el nino, sementara beberapa pakar lingkungan bilang karena semakin banyak sumur bor sehingga, air tanah menyusut dan air laut merembes (IMS; 30 juli 2015). Sedang para ahli perenungan menyatakan bahwa manusia telah terlalu banyak menyakiti alam dan mendzalimi dirinya sendiri sehingga alam bereaksi.
      Jangankan kawasan NTT yang memang sudah langganan kekeringan setiap tahun, Bogor lho  kota yang berjuluk “kota hujan”  saja mengalami kekeringan. Maka mau tidak mau saya harus berinisiatif mengambil tindakan cerdas untuk mengakali krisis air. Berikut ini adalah beberapa tips yang saya terapkan dalam menyiasati krisis air yang beberapa hari lalu saya alami.
1.    Membuka dan Menutup Kran dengan Seksama
Nah, kelihatannya sepele sih ya. Kita sering teledor dalam mengontrol kran air kita. Kadang kita suka sekali menyalakan air meski hanya sekedar cuci kaki dan buang air kecil. Padahal untuk urusan tersebut kita hanya memerlukan beberapa gayung air saja. Selain itu, yang krusial nih, kalau kita suka teledor menutup kran air. Bayangkan kalau ada 3 kran yang kurang pas menutupnya sehingga air menetes terus menerus. Boros banget kan! Kalaupun memang krannya bermasalah, tetesan air bisa ditampung menggunakan ember hingga kita memperbaiki atau mengganti dengan kran yang baru. Nah, air tampungannya bisa kita gunakan untuk keperluan yang lain seperti mencuci baju dsb.
2.    Meminimalisir Air Terbuang Ketika Berwudhu
Wudhu merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam jika akan melakukan ibadah lain seperti sholat. Hakikatnya, berwudhu merupakan sebuah sarana untuk membersihkan diri dari kotoran dan mencapai kesucian. Sayangnya, kita suka sekali berlebihan dalam berwudhu. Misalnya, membasuh kepala sampai basah banget atau membasuh kaki sampai betis. Padahal, Rasulullah saw itu mencontohkan untuk menyapukan air pada kepala dan membasuh hingga mata kaki saja. Belum lagi ada beberapa orang yang kalau berwudhu membasuhnya suka over hehehe…  Dalam membasuh satu bagian tubuh saja bisa lima kali. Kebayang tuh kan berapa banyak air yang terbuang. Berwudhulah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw itu berwudhu dengan air sebanyak 1 mud saja. 1 mud itu kalau untuk ukuran orang Hijaz (orang dari kawasan Makah situ) sekitar 1/3 liter. Sementara untuk takaran orang Irak, 1 mud sama dengan 2 liter. Sementara untuk mandi, Rasulullah saw memakai air sebanyak 1 sho’ sampai 5 mud (HR. Muttafaq alaih). Yuk kita benahi wudhu kita selain mengikuti sunah Rasul juga tidak boros air
Selain berwudhu sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, bisa juga lho pas wudhu kita taruh ember di bawah kran. Jadi air bekas wudhu kita nggak terbuang ke mana-mana. Asal kalau kumur-kumur airnya jangan dibuang ke ember. Nah, air bekas wudhu kita ini kan masih bagus tuh, bisa kita manfaatkan untuk mencuci baju. Dalam sehari, saya bisa mengumpulkan sekitar 3 ember air sisa wudhu. Satu ember sekitar 4 liter air, lumayan kan bisa buat nyuci serbet atau kain-kain lap.
3.    Tidak Berlebihan Memakai Detergen atau Sabun ketika Mencuci Baju
Namanya nyuci pengen bersih, biasanya kita suka menuangkan detergen banyak-banyak ke cucian kita. Karena berdasarkan stigma orang terdahulu, makin banyak busa makin bersih. Faktanya, makin banyak busa makin banyak air yang kita gunakan untuk membilas. Plus kalau bilasnya nggak bersih, sisa busa yang mengendap di baju malah bikin kulit kita gampang iritasi. Terus, gimana kalau cuciaan kita malah nggak bersih kalau sabunnya make dikit saja? Tenang, kita kan bisa tuh pakai trik ibu-ibu cerdas yang menggunakan citrun acid untuk membuat cucian bersih dari noda. Penggunaan citrun acid itu, selain bikin kain bersih, nggak berbusa juga lho. Jadi hemat air
4.    Reuse Air
Pemakaian ulang atau pemanfaatan ulang, yah istilah kekiniannya itu “reuse”. Memanfaatkan ulang air itu bisa dicontohkan dengan memakai air bekas nyuci untuk nyiram tanaman. Atau menggunakan air bilasan terakhir pada pencucian baju, untuk dijadikan air bilasan pertama pada proses pencucian berikutnya. Tindakan ini bisa menekan jumlah pemakaian air bersih dalam kegiatan rumah tangga.
5.    Mencuci Piring dengan Cara yang Tepat
Nah, ini yang suka terlewatkan. Mencuci piring, kalau kita salah ambil tindakan bisa-bisa justru memicu pemborosan air lho. Ada beberapa orang yang membersihkan sisa makanan dengan cara menyemburkan air kran agar isi piringnya berjatuhan ke jalan air. Selain boros air, sisa makanan juga bisa menyumbat saluran air. Cara paling tepat, ya kita buang dulu sisa makanannya ke tempat sampah. Barulah kita cuci piringnya.
Jangan lupa juga untuk memperhatikan urut-urutan material atau kondisi piranti makan dan alat masak yang akan dicuci. Dahulukan gelas dan piranti lain yang tidak amis dan berminyak. Gunakan jeruk nipis untuk mencuci alat makan dan alat masak yang berbau amis dan cucilah alat masak yang paling berminyak di urutan paling akhir. Kenapa harus diurut seperti itu? Karena kalau yang kotoran terberat didahulukan, biasanya kita akan boros air. Kok bisa? Karena air bekas cucian dari piring atau piranti dengan kotoran terberat, tidak bisa kita gunakan untuk membilas sabun pada piranti sepeti gelas. Nah, kalau gelas duluan yang disabun, kan air bilasannya bisa dipakai untuk membilas piring. Walaupun perlu ditambah air sedikit lagi biar bilasannya sempurnya.
Oke, itulah beberapa tips dan trik dari saya yang kemarin sempat mengalami krisis air. Semoga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman yang membacanya. Jangan lupa untuk menambahkan beberapa tips ala teman-teman agar kita punya banyak cara menghemat air. Yuk, sayangi lingkungan kita. Karena muslim yang baik adalah mereka yang menebar kasih sayang dan manfaat bagi  segenap penghuni alam raya.
Salam kebermanfatan J




No comments:

Post a Comment