Kemarau
panjang melanda sebagian besar kawasan Indonesia. BMKG bilang sih karena dampak
el nino, sementara beberapa pakar
lingkungan bilang karena semakin banyak sumur bor sehingga, air tanah menyusut
dan air laut merembes (IMS; 30 juli 2015). Sedang para ahli perenungan
menyatakan bahwa manusia telah terlalu banyak menyakiti alam dan mendzalimi dirinya
sendiri sehingga alam bereaksi.
Jangankan
kawasan NTT yang memang sudah langganan kekeringan setiap tahun, Bogor lho kota yang berjuluk “kota hujan” saja mengalami kekeringan. Maka mau tidak mau
saya harus berinisiatif mengambil tindakan cerdas untuk mengakali krisis air.
Berikut ini adalah beberapa tips yang saya terapkan dalam menyiasati krisis air
yang beberapa hari lalu saya alami.
1. Membuka dan Menutup Kran dengan Seksama
Nah,
kelihatannya sepele sih ya. Kita sering teledor dalam mengontrol kran air kita.
Kadang kita suka sekali menyalakan air meski hanya sekedar cuci kaki dan buang
air kecil. Padahal untuk urusan tersebut kita hanya memerlukan beberapa gayung
air saja. Selain itu, yang krusial nih, kalau kita suka teledor menutup kran
air. Bayangkan kalau ada 3 kran yang kurang pas menutupnya sehingga air menetes
terus menerus. Boros banget kan! Kalaupun memang krannya bermasalah, tetesan
air bisa ditampung menggunakan ember hingga kita memperbaiki atau mengganti
dengan kran yang baru. Nah, air tampungannya bisa kita gunakan untuk keperluan
yang lain seperti mencuci baju dsb.
2. Meminimalisir Air Terbuang Ketika Berwudhu
Wudhu
merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam jika akan melakukan
ibadah lain seperti sholat. Hakikatnya, berwudhu merupakan sebuah sarana untuk
membersihkan diri dari kotoran dan mencapai kesucian. Sayangnya, kita suka
sekali berlebihan dalam berwudhu. Misalnya, membasuh kepala sampai basah banget
atau membasuh kaki sampai betis. Padahal, Rasulullah saw itu mencontohkan untuk
menyapukan air pada kepala dan membasuh hingga mata kaki saja. Belum lagi ada
beberapa orang yang kalau berwudhu membasuhnya suka over hehehe… Dalam membasuh satu bagian tubuh saja bisa
lima kali. Kebayang tuh kan berapa banyak air yang terbuang. Berwudhulah
seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw itu berwudhu dengan
air sebanyak 1 mud saja. 1 mud itu
kalau untuk ukuran orang Hijaz (orang dari kawasan Makah situ) sekitar 1/3
liter. Sementara untuk takaran orang Irak, 1 mud sama dengan 2 liter. Sementara
untuk mandi, Rasulullah saw memakai air sebanyak 1 sho’ sampai 5 mud (HR. Muttafaq alaih). Yuk kita benahi wudhu kita
selain mengikuti sunah Rasul juga tidak boros air
Selain
berwudhu sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, bisa juga lho pas
wudhu kita taruh ember di bawah kran. Jadi air bekas wudhu kita nggak terbuang
ke mana-mana. Asal kalau kumur-kumur airnya jangan dibuang ke ember. Nah, air
bekas wudhu kita ini kan masih bagus tuh, bisa kita manfaatkan untuk mencuci
baju. Dalam sehari, saya bisa mengumpulkan sekitar 3 ember air sisa wudhu. Satu
ember sekitar 4 liter air, lumayan kan bisa buat nyuci serbet atau kain-kain
lap.
3. Tidak Berlebihan Memakai Detergen atau Sabun ketika
Mencuci Baju
Namanya
nyuci pengen bersih, biasanya kita suka menuangkan detergen banyak-banyak ke
cucian kita. Karena berdasarkan stigma orang terdahulu, makin banyak busa makin
bersih. Faktanya, makin banyak busa makin banyak air yang kita gunakan untuk
membilas. Plus kalau bilasnya nggak bersih, sisa busa yang mengendap di baju
malah bikin kulit kita gampang iritasi. Terus, gimana kalau cuciaan kita malah
nggak bersih kalau sabunnya make dikit saja? Tenang, kita kan bisa tuh pakai
trik ibu-ibu cerdas yang menggunakan citrun acid untuk membuat cucian bersih
dari noda. Penggunaan citrun acid itu, selain bikin kain bersih, nggak berbusa
juga lho. Jadi hemat air
4. Reuse Air
Pemakaian
ulang atau pemanfaatan ulang, yah istilah kekiniannya itu “reuse”. Memanfaatkan
ulang air itu bisa dicontohkan dengan memakai air bekas nyuci untuk nyiram
tanaman. Atau menggunakan air bilasan terakhir pada pencucian baju, untuk
dijadikan air bilasan pertama pada proses pencucian berikutnya. Tindakan ini
bisa menekan jumlah pemakaian air bersih dalam kegiatan rumah tangga.
5. Mencuci Piring dengan Cara yang Tepat
Nah, ini
yang suka terlewatkan. Mencuci piring, kalau kita salah ambil tindakan
bisa-bisa justru memicu pemborosan air lho. Ada beberapa orang yang
membersihkan sisa makanan dengan cara menyemburkan air kran agar isi piringnya
berjatuhan ke jalan air. Selain boros air, sisa makanan juga bisa menyumbat
saluran air. Cara paling tepat, ya kita buang dulu sisa makanannya ke tempat
sampah. Barulah kita cuci piringnya.
Jangan
lupa juga untuk memperhatikan urut-urutan material atau kondisi piranti makan
dan alat masak yang akan dicuci. Dahulukan gelas dan piranti lain yang tidak
amis dan berminyak. Gunakan jeruk nipis untuk mencuci alat makan dan alat masak
yang berbau amis dan cucilah alat masak yang paling berminyak di urutan paling
akhir. Kenapa harus diurut seperti itu? Karena kalau yang kotoran terberat
didahulukan, biasanya kita akan boros air. Kok bisa? Karena air bekas cucian
dari piring atau piranti dengan kotoran terberat, tidak bisa kita gunakan untuk
membilas sabun pada piranti sepeti gelas. Nah, kalau gelas duluan yang disabun,
kan air bilasannya bisa dipakai untuk membilas piring. Walaupun perlu ditambah
air sedikit lagi biar bilasannya sempurnya.
Oke, itulah beberapa tips dan trik dari saya yang kemarin sempat
mengalami krisis air. Semoga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman yang
membacanya. Jangan lupa untuk menambahkan beberapa tips ala teman-teman agar
kita punya banyak cara menghemat air. Yuk, sayangi lingkungan kita. Karena
muslim yang baik adalah mereka yang menebar kasih sayang dan manfaat bagi segenap penghuni alam raya.
Salam kebermanfatan J

No comments:
Post a Comment